Wednesday, November 25, 2009

Perburuan Burung Air Di Indramayu Ancaman Terhadap Burung Migran Dan Penetap

Bagi kebanyakan orang, memakan daging burung air merupaka hal yang aneh. Bahkan melihat burung air barangkali juga belum pernah. Namun, di Indramayu, Cirebon, Gresik, Rawajitu, dan Banjarmasin, mengkonsumsi burung burung air tidak anehnya seperti makan ayam goreng. Menu burung air bisa diperoleh dengan harga yang lebih murah dibanding ayam. Di Singakerta, dengan Rp.5.000,- penggemar daging burung air sudah dapat membawa pulang nasi putih dan burung goreng. Seorang pedagang burung air goreng di Pasar Singakerta, Indramayu mulai menjual dagangannya sejak jam 6 pagi. Tidak lebih dari 3 jam, lebih dari 20 ekor burung goreng habis terjual.

Perburuan Burung air

Waktu musim panen padi, Asmuni, seorang pemburu di Desa Dukuh Jati, Krangkeng, Indramayu setiap hari mampu menangkap rata-rata 10 ekor burung air atau 300 ekor/bulan. Dengan jumlah pemburu lebih dari 20 orang, setidaknya para pemburu telah membunuh 6.000 ekor burung air di waktu musim panen padi yang lamanya sekitar 1 bulan. Selain menjelajah Indramayu, Asmuni yang selama lebih dari 30 tahun berprofesi utama sebagai penangkap burung air telah menjelajah Jakarta, Muara Angke, Merunda, Pamanukan, Singatirem, Jogjakarta, Cilacap, Menggala, dan Jabung di Jawa dan Lampung. Burung-burung air yang sudah disembelih dan dibersihkan bulu-bulunya kemudian dikirim dalam jumlah besar dari penadah di Jabung dan Metro (Lampung) ke Cilincing dan Tanjung Priok di Jakarta dalam kotak pendingin untuk didistribusikan di pasar tradisional Jakarta. Pengiriman dilakukan setiap 4-5 hari dengan jumlah burung mencapai 400-1500 ekor sekali kirim.

Di Pasar Rawajitu, Lampung Utara, lebih dari 1.300 ekor burung air laku terjual setiap bulan. Setiap malam lebih dari 35 ekor Belibis Kembang (Dendrocygna arquata) dan Berkik (Gallinago sp) goreng dijajakan di sebuah gerobak dorong yang khusus menjual burung air. Di pasar yang sama, pemilik Rumah Makan Surabaya mampu menjual sekurangnya 10 ekor belibis goreng tiap harinya. Lokasi perburuan diidentifikasi berasal dari Swakarya dan Penangkis yang merupakan areal persawahan.

Hasil wawancara BEBSiC, PPHT UNMUL, Fahutan UNMUL, BKSDA Kaltim dan Universitas Amsterdam kepada para kelompok penangkap burung air menunjukkan bahwa sejak tahun 2005 - 2007 para penangkap burung itu telah menangkap 28.629 ekor Belibis Kembang di wilayah Danau Mahakam. Survey terakhir oleh GAINS di Kota Bangun, Kutai Kertanegara pada Bulan Oktober 2007 menunjukkan bahwa seorang pemburu belibis dalam waktu 3-4 hari memperoleh rata-rata 300 burung air. Setiap penampung yang membawahi 6 pemburu kemudian mengirimkan belibis ke Banjarmasin dalam keadaan sudah dipotong atau dibawa hidup-hidup tergantung permintaan pasar.

Informasi perburuan dan perdagangan burung air ditemukan pula di Pasar Wonopolo, Kec. Dempet, Demak. Perburuan ini juga dilakukan saat musim panen dan tanam padi. Jenis burung yang sering ditangkap adalah Berkik (Gallinago sp) dan Terik (Glareola sp) di areal persawahan. Di Mintreng, varasi jenis yang ditangkap lebih banyak, meliputi beberapa jenis Mandar, Pelan, Berkik dan Belibis. Burung-burung ini dijual di pasar dalam wujud sudah dibacem atau digoreng.

Perburuan yang Menguntungkan

Di Indramayu, burung air dijual dengan sistem per ikat. Satu ikat burung dihargai Rp.6.000,- tergantung besar kecilnya burung. Jumlah tiap ikat sekitar 3-4 ekor untuk yang kecil atau 1 ekor untuk burung berukuran besar. Apabila dalam sehari seorang pemburu memperoleh rata-rata 10-20 ekor burung, maka penghasilan dari berburu burung air setiap harinya bisa mencapai Rp. 30.000,- s/d Rp.50.000,-. Bagi kalangan ekonomi lemah, hasil ini lebih lumayan dibanding bekerja sebagai buruh kasar yang bekerja selama seharian penuh. Tidak heran, di waktu musim tanam dan panen padi, jumlah pemburu dapat melonjak lebih dari 20 orang.

Pak Kerta, seorang pengepul di Singakerta dapat menampung 30-50 ekor burung dari 2-3 orang pemburu. Setiap ikat dihargai Rp.6.000,-. Keuntungan yang didapatkan mencapai Rp. 3.000,- s.d Rp. 4.000,- per ekor. Dari perhitungan itu, sehari-hari pengepul dapat meraup keuntungan Rp. 90.000,- s/d 200.000,- Mengingat besarnya keuntungan yang didapat, profesi pengepul burung pantai di Singakerta menjadi pekerjaan utama Pak Karta. Burung-burung yang ditampung pengepul akan disembelih terlebih dahulu sebelum dikirim ke Pasar Pasar Pagi dan Pasar Jatra di Indramayu. Selain untuk memenuhi kebutuhan lokal di Pasar Singakerta, burung-burung yang sudah diolah dalam bentuk bacem dikirim juga ke Pasar Kalisari di Cirebon yang hanya berjarak tidak lebih dari 1 jam.

Di Banjarmasin, harga seekor belibis Rp. 12.000,- di tingkat pemburu. Di tingkat penampung, harganya menjadi Rp. 17.000,-. Dalam keadaan siap disantap, harganya naik lagi menjadi Rp. 25.000,-. Menariknya, para pemburu, penampung dan konsumen belibis di Banjarmasin adalah komunitas orang Banjar. Menurut mereka, hal itu sudah berlangsung secara turun temurun.

In Banjarmasin, price of Wandering Whistling Duck from hunter is IDR 12,000. The price will be increased on dealer, about IDR 17,000. When ready to served, the prices reach IDR 25,000. Sound interesting that all hunters, dealers, and consumers in Banjarmasin are Banjar etnic. They eat waterbirds since long time ago, and not remember from who the tradition was began.

Ancaman Kepunahan Burung Air (Studi Kasus di Indramayu)

Sensus yang dilakukan oleh Rusila (1987), Rusila & Indrawan (1990), Sibuea (1997), Sofian & Endang (2002) dan survey terakhir oleh WCS GAINS (2007) mengenai jenis-jenis burung air yang dimanfaatkan masyarakat pesisir Indramayu menunjukkan bahwa perburuan burung air di Indramayu sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Bukti ini juga diperkuat dengan temuan GAINS tentang keberadaan pemburu yang sudah melakukan perburuan lebih dari 30 tahun.

disadur dari http://www.wildlifecrimesunit.com

Tuesday, November 24, 2009

Manuk sawah enak tenan

crita menangkap burung sawah di rawa-rawa kecil sekitar ambarawa dan dipinggir rawapening. Daging burung sawah memang sudah termashur lezat, dan penggemarnya tersebar diseluruh pelosok dunia, sampai kisah raja raja dulu juga menceritakan tentang keranjiang terhadap daging burung. Tekstur dagingnya halus lembut dan rasa gurihnya kuat sangat mengesankan dilidah. Aku termasuk orang yang mengidolakan rasa daging burung sebagai daging kelas satu. Aku keranjingan daging burung sawah sejak kecil, emak ku sering beli burung sawah dari tetanggaku yang pekerjaanya memang mencari burung. Kadang mereka datang sendiri ke rumah menukarkan burung dengan beras, burungnya sudah bersih dicabutin bulunya, bulu halusnya udah di brongot api, dibelah dan ditusuk pake bambu, seksi.

Kadang kalau libur aku suka mengikuti tetanggaku yang suka mengolo dan menjaring burung di sawah. Adrenalinku ngecrot2 kalo menangkap burung yang kena kolo atau nabrak jaring. Ini yang membuatku senang mengikuti mereka memasang jaring, aku yang nangkap burungnya.

Wilayah favorit ngolo manuk atau masang jaring burung adalah di sawah-sawah sekitar mbalong ngampin atau rawa ngampin, rawa setro Jambu, dan sawah sawah sekitar rawa gadingan, kadang kalau pas sepi burung, wilayah jajahannya sampai pinggir rawapening disekitar muara kali galeh, kali torong dan kali njalen. Dirawa rawa itu tumbuh rumput glagah rawa, genjer, bakung, bengok enceng gondok, dan berbagai macam tumbuhan air yang rapat, ditambah lagi lumpurnya yang dalam sehingga tidak bisa diakses orang, terutama di mbalong ngampin. Di sanalah tempat kerajaan burung rawa, ular sanca kembang, lintah, ikan gabus, betok dan sepat siem. Dari jauh sudah terlihat burung burung yang lagi ngeceng, terutama manuk peruk yang jidatnya merah, ditambah suara burung peruk dan derbombok yang meramaikan langit mbalong ngampin. perrruk........kraoo kraok kraok..... hatiku bergumbira ria kalau sudah sampai mbalong ngampin.

Iwak manuk pancen enak tenan, sing paling enak kui manuk nyamyaman lan manuk peruk. Carane masak ngene; manuk e dibrodoli wulune sik, trus di brongot nganti resik wulune, trus di ungkep, nek sabar dinengke sewengi, bumbune ungkep: tumbar, miri, mrico, bawang, uyah, kecap, godong jeruk purut. Lha......esuke kari nggoreng, ditanggung bumbune wis merasuk, tambah sego anget...wah sip.....serat daginge lembut banget, gurihe selangit, ora ono sing ngalahke, dijamin goyang lidah, manuk nyamnyaman & manuk peruk ki manuk paling enak dewe sedunia.

burung sawah goreng

burung sawah goreng memang sangat gurih dan lezat banget, misalnya manuk bontot, nyamnyaman, peruk, tikusan, sirbombok.

MEMASAK daging burung mungkin tidak hanya ada di Kudus. Di kota ini, tradisi seperti itu tidak terjadi di semua tempat. Hanya di Kecamatan Undaan sajalah, santapan daging burung dapat dijumpai.

Hal itu tidak lepas dari bahan masakan berupa jenis burung sawah yang umumnya mudah dijumpai di kawasan Undaan. Burung-burung sawah seperti ini pun tidak bisa dijumpai di pasar tradisional, atau pasar unggas.
Maka bagi para penggemar daging burung dan warung penjaja masakan ini, hanya kepada penjaring burunglah mereka bergantung.

Seperti yang dilakukan Karjo (70). Warga Desa Ngemplak ini adalah salah satu penjaring burung sawah yang rutin menyetor hasil tangkapannya ke warung-warung makan. “Cari burung itu ya gampang-gampang sulit. Harus sabar dan waktunya juga lama,” kata pria yang sudah lima tahun menjalani profesi itu.

Dalam sebutan masyarakat Undaan, burung-burung yang umum dimasak adalah burung tikusan, peruk, dan sir bombok. Burung-burung sawah ini biasanya hidup di persawahan yang masih ada airnya, karena disitulah tempat mereka mencari makan.

“Kalau kemarau seperti ini, yang banyak burung tikusan. Nyari peruk sama bontot sulit, karena burung ini baru banyak pada saat penghujan,” jelas Karjo sembari mengikat burung-burung tangkapannya dengan tali plastik.

Bisa dikatakan, saat kemarau seperti ini Karjo yang setiap harinya bisa mendapatkan 15-20 burung sawah itu pendapatannya agak menurun.

Pasalnya, burung tikusan dihargai paling murah daripada jenis burung lain. “Tikusan itu cuma Rp 3.000 kalau saya jual ke warung. Yang agak lumayan ya sir bombok, bisa Rp 5.000 per ekor. Tapi sir bombok ini kadang yang pesan juga banyak, karena untuk jamu bagi orang yang hamil pertama dan bisa mengobati sakit kuning (hepatitis A),” katanya.

Beda saat musim penghujan, pendapatan Karjo pun bisa lebih banyak. Burung bontot yang biasanya muncul di masa ini, bisa dihargai sampai Rp 7.000 per ekor. Burung peruk pun masih dihargai Rp 6.000. “Tapi ya itu harus hujan-hujanan juga.”

Karjo menangkap burung dengan cara memasang jaring sepanjang 100 meter. Jaring ini dipasang di sekitar pematang sawah. Di tengah sawah, Karjo memasang tali-tali yang diberi pernik semacam pengusir burung. Ketika burung-burung berada di tengah sawah tali-tali itu berfungsi mengejutkan, mengarahkan burung ke arah jaring. “Saya pasang mulai pukul 06.30 dan baru selesai njaring pukul 15.00,”

Meski daging burung sawah gurih dan lezat, namun penangkapan burung yang tidak terkendali bisa menyebabkan kepunahan. Layaknya burung jalak suren atau jalak hitam yang kini tidak lagi dijumpai di persawahan. Ada baiknya, burung-burung sawah tersebut dikembangkan sendiri, sehingga peran mereka di alam sebagai mata rantai ekosistem tetap terjaga.(79)

disadur dari Suara Merdeka;
15 Juli 2009
Karjo Memenuhi Selera Penggemar Daging Burung
Oleh Sony Wibisono

Tuesday, November 10, 2009

Njaring Manuk Mliwis

Ngolo manuk sawah, njaring manuk sawah. Mbah Jaimin, omahe Gondorio, Jambu, Mbarowo, gaweane njaring manuk mliwis. Nek sawah lagi usum do nyebar gabah, ge wineh, biasane mbengine gabah e diserang rombongan manuk mliwis entek resik. Esuk e nek ditileki nang sawah, gabahe wis entek gusis, nang lendut kebak tatune sikil mliwis. Lha nek mongso ngene iki mbah jaimin nek sore sok mlaku mlaku turut sawah, nonton ngendi sing lagi nyebar gabah ge winih, karo nonton mliwis sing do mabur ngincengi gabah, akeh pora manuke.
Lha bar magrib mbah jaimin lagi mangkat njaring nang sawah ler leran sing disebari gabah mau. Sekitar sawah sing di sebari gabah mau dipasangi jaring, jaringe di pasang nang galengan di cagak i nganggo pring loro, kiwo tengen, jaringe duwure ono nek 7 meteran, dowone ono nek 50 meteran. Nek jaring wis dipasang, bar kui di tinggal mumpet opo di tinggal udud seko kadohan. Nek pas padang mbulan sip, seko kadohan manuke mliwis sing do mabur mbengi ketok, do mabur rombongan liwat mbulan ngincengi gabah, apik tenan nek dipoto, koyo filem kartun, manuk lewat mbulan hehe....
Nek kiro kiro mliwise wis do midun, lagi diparani, mlaku alon alon karo mrunduk opo tiarap, nek wis cedak langsung diburak, ben mliwise kaget mabur nang arah jaring. Mesti entuk akeh, sebab mliwis ki nek nggolek pangan rombongan. Nek bejo iso entuk 30 barang sak burakkan, do ting kruntel nabrak jaring. Ndang gage pring cagake jaring di bedol di mbrukke, dak do ucul meneh manuk mliwise. Mbah Jaimin wis tau entuk mliwis 30 an punjul, nganti karunge mes sin 50 kilonan ora cukup. Bayangno, koe entuk bebek liar 30 iji, arep kok wadahi opo?
Lha nek koe wong jakarta, nek wis tau mangan bebek cina, sing daginge empuk serate alus, yo kui manuk mliwis, alias bebek liar, alias belibis.

Gambar; manuk mliwis
Sebutan lainnya; belibis, bontot, bebek nonong, bebek benjol, bebek liar.
Bebek sing migrasi antar benua, nek mabur rombongan, nek dijaring mbengi, iso kecekel kabeh sak rombongan.





Monday, November 9, 2009

NGOLO MANUK

NGOLO
Kang Uwik lan Kang Kasan anake mbah Salamah senengane ngolo manuk nang sawah, omahe Jambu Wetan, dusun wetan Jambu, pinggir sawah. Nek ngolo biasane mangkat bar luhur baline magrib. Nek pari wis kuning biasane sdino sok entuk 15 tekan 25 barang. Manuke yo macem macem, sing akeh manuk peruk, manuk bawangan lan manuk singkrek. Kadang nek bejo sak kotak sawah kebak manuk yamyaman, wah nek ngene ki sip tenan. Nyamnyaman ki manuke sak pitik jowo daginge enak tenan. Kadang nek bejo yo entuk bontot lan biron, manuke sak bebek, pancen jenis bebek liar sing mabur adoh leren sko perjalan migrasi antar benua. Bontot ki akeh sing nyebut meliwis utowo belibis, arang mlebu kolo, bisane sok di jaring nek mbengi, nek keno sak rombongan, nganti 40 barang, lumayan akeh, bayangno entuk bebek 40, kok wadahi opo?.
Kolo manuk kui tampare digawe sko duk aren, bentuke tampar dowo ngono trus dicangklongi kolonan, ditaleni. Biasane disempen nang besek, digulung, trus diolesi lengo klentik ben jiretane sip.

Gambar; manuk tikusan/ruak ruak/derbombok/sirbombok.

Manuke biasane di dol nang warunge mbak ju, nek ra diparani wong wong kampung dituku nang nggone. Biasane manuke wis dibedoli wulune, wis dibrongot, lan disunduki, pokoke bentuk e seksi. Manuk peruk regane 7 ngewu, nek nyamnyaman 15 ewu, nek manuk singkrek rapayu, iwake amis, nek manuk bambangan lan manuk tikusan (derbombok) diregani 4 ngewu.

gambar; kolo manuk gaweane Lik Uwik, Jambu Wetan, Ambarawa, efektiv ge ngolo manuk peruk, nyamnyaman, singkrek & sirbombok tikusan.cara memakainya: tali tampar utama kolo dibentangkan sepanjang pematang sawah, dipasang mepet dengan tanaman padi yang paling pinggir pematang, tinggi tali tampar kolo efektif nya dari tanah sekitar 11-14 cm, karena burung ketika keluar dari padi menuju pematang sawah akan menundukkan kepalanya, tiap 7 meter diberi penyangga bambu, biar bentangan kolo nya kencang dan tidak melengkung ke bawah, pastikan semua kolo nya terbuka dan mengggantung dibawah, jangan sampai ada yang kolonya melintir ke samping atau ke atas tali tampar utama, dijamin semua burung yang keluar dari sawah akan nyangkut semua di kolo.

Sunday, November 8, 2009

MANUK SAWAH, BURUNG SAWAH

Burung rawapening, manuk rowopening, burung rawa, burung sawah, manuk sawah.
Urutan gambar sko nduwur kiwo arah nengen midun (jenengan khas mbarowo);
1. Peruk, suarane 'perrrrrruk'
2. Nyanyaman lanang (ayam ayaman)
3. Nyamyaman babon (ayam ayaman)
4. Blekok,
5. trinil,
6. bambangan,
7. gajahan,
8. singkrek,
9. pecuk pari,
10. bontot, meliwis, belibis, bebek liar, bebek nonong, bebek benjol (bebek rowo maburan, di jaring nek mbengi),
11. derbombok (tikusan, ruak ruak, sirbombok) suka bikin ribut disawah, suarane 'kraook, kraook' ngonoo...
12. biron