Tuesday, November 24, 2009

burung sawah goreng

burung sawah goreng memang sangat gurih dan lezat banget, misalnya manuk bontot, nyamnyaman, peruk, tikusan, sirbombok.

MEMASAK daging burung mungkin tidak hanya ada di Kudus. Di kota ini, tradisi seperti itu tidak terjadi di semua tempat. Hanya di Kecamatan Undaan sajalah, santapan daging burung dapat dijumpai.

Hal itu tidak lepas dari bahan masakan berupa jenis burung sawah yang umumnya mudah dijumpai di kawasan Undaan. Burung-burung sawah seperti ini pun tidak bisa dijumpai di pasar tradisional, atau pasar unggas.
Maka bagi para penggemar daging burung dan warung penjaja masakan ini, hanya kepada penjaring burunglah mereka bergantung.

Seperti yang dilakukan Karjo (70). Warga Desa Ngemplak ini adalah salah satu penjaring burung sawah yang rutin menyetor hasil tangkapannya ke warung-warung makan. “Cari burung itu ya gampang-gampang sulit. Harus sabar dan waktunya juga lama,” kata pria yang sudah lima tahun menjalani profesi itu.

Dalam sebutan masyarakat Undaan, burung-burung yang umum dimasak adalah burung tikusan, peruk, dan sir bombok. Burung-burung sawah ini biasanya hidup di persawahan yang masih ada airnya, karena disitulah tempat mereka mencari makan.

“Kalau kemarau seperti ini, yang banyak burung tikusan. Nyari peruk sama bontot sulit, karena burung ini baru banyak pada saat penghujan,” jelas Karjo sembari mengikat burung-burung tangkapannya dengan tali plastik.

Bisa dikatakan, saat kemarau seperti ini Karjo yang setiap harinya bisa mendapatkan 15-20 burung sawah itu pendapatannya agak menurun.

Pasalnya, burung tikusan dihargai paling murah daripada jenis burung lain. “Tikusan itu cuma Rp 3.000 kalau saya jual ke warung. Yang agak lumayan ya sir bombok, bisa Rp 5.000 per ekor. Tapi sir bombok ini kadang yang pesan juga banyak, karena untuk jamu bagi orang yang hamil pertama dan bisa mengobati sakit kuning (hepatitis A),” katanya.

Beda saat musim penghujan, pendapatan Karjo pun bisa lebih banyak. Burung bontot yang biasanya muncul di masa ini, bisa dihargai sampai Rp 7.000 per ekor. Burung peruk pun masih dihargai Rp 6.000. “Tapi ya itu harus hujan-hujanan juga.”

Karjo menangkap burung dengan cara memasang jaring sepanjang 100 meter. Jaring ini dipasang di sekitar pematang sawah. Di tengah sawah, Karjo memasang tali-tali yang diberi pernik semacam pengusir burung. Ketika burung-burung berada di tengah sawah tali-tali itu berfungsi mengejutkan, mengarahkan burung ke arah jaring. “Saya pasang mulai pukul 06.30 dan baru selesai njaring pukul 15.00,”

Meski daging burung sawah gurih dan lezat, namun penangkapan burung yang tidak terkendali bisa menyebabkan kepunahan. Layaknya burung jalak suren atau jalak hitam yang kini tidak lagi dijumpai di persawahan. Ada baiknya, burung-burung sawah tersebut dikembangkan sendiri, sehingga peran mereka di alam sebagai mata rantai ekosistem tetap terjaga.(79)

disadur dari Suara Merdeka;
15 Juli 2009
Karjo Memenuhi Selera Penggemar Daging Burung
Oleh Sony Wibisono

6 comments:

  1. boleh kenalan ga Q asli muncul.....tertarik ama hobby anda.....tks

    ReplyDelete
  2. mbak e iso di jaring ra???

    ReplyDelete
  3. it is is your truly picture ?

    ReplyDelete
  4. ck ck ck ck look so delicious!!!!!!!!!

    ReplyDelete